KRISIS ETIKA DALAM BRANDING DI MEDIA SOSIAL : ANALISIS DAMPAK SOSIAL DAN PSIKOLOGIS
Main Article Content
Abstract
Media sosial telah menjadi arena utama komunikasi pemasaran modern, tetapi praktik branding
di dalamnya kerap mengabaikan aspek etis. Fokus pada kecepatan viral, engagement, dan penetrasi pasar
sering menyingkirkan prinsip transparansi, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini bertujuan
menganalisis krisis etika dalam branding di media sosial serta dampak sosial dan psikologis yang
ditimbulkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada tiga akun
media sosial brand komersial di Indonesia, yaitu @GlowSkinID (Instagram), @TrendyFitStyle (TikTok),
dan @XclusiveGadget (Twitter/X). Data dikumpulkan melalui analisis konten, wawancara mendalam
dengan praktisi, influencer, konsumen, dan akademisi, serta observasi online terhadap percakapan publik.
Analisis data dilakukan dengan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola isu etika, respon
audiens, dan implikasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa @GlowSkinID menuai kritik karena
klaim produk berlebihan dan kurangnya transparansi dalam kolaborasi dengan influencer;
@TrendyFitStyle dikritik karena menampilkan standar tubuh yang diskriminatif, memicu body shaming
dan tekanan psikologis pada remaja; sementara @XclusiveGadget mengalami krisis reputasi akibat
misleading advertising yang memunculkan hashtag #BoikotXclusive. Secara umum, kurangnya etika
dalam branding menimbulkan distrust publik, resistensi kolektif, serta dampak psikologis berupa
kecemasan, rasa tertipu, dan rendahnya rasa percaya diri konsumen. Penelitian ini menegaskan bahwa
branding digital tidak dapat hanya berorientasi pada pencapaian komersial jangka pendek, tetapi harus
mengintegrasikan prinsip etika agar mampu membangun hubungan yang berkelanjutan antara brand dan
publik.
Downloads
Article Details
Issue
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.